Selama peradaban manusia tidak mengalami ‘keruntuhan’ absolut, religi akan selalu diperlukan. Terlepas dari doktrin maupun aliran yang dipegang, apapun yang agamawi itu akan tetap relevan bagi umat manusia sepanjang dinamika hidup terus berjalan.
Memang unik dalam perspektif sains, bahwa manusia termasuk organisme multiseluler yang memiliki kecerdasan eksistensial—menyadari kehidupan ini pasti berada dalam kuasa otoritas tertinggi, yang diyakini melebihi kuasa manusia itu sendiri.
Guna memenuhi kondisi palum pada kalbu, akhirnya manusia berinisiatif membuat kepercayaan dengan referensinya pada fenomena hingga benda-benda alam yang tersedia dan berwujud.
Pada kali ini, kita akan mempelajari apa itu animisme dan dinamisme. Kira-kira, bagaimana sih sistem kepercayaan tersebut mampu berkembang serta ‘membekas’ di Indonesia sekarang?
Definisi dan Karakteristik
Perlu digarisbawahi, konsep akan animisme dan dinamisme tidaklah sama dengan agama samawi atau agama yang berasal dari wahyu. Sistem kepercayaan ini timbul dari naluri masyarakat yang menghubungkan keyakinan terhadap roh halus maupun benda keramat dengan fenomena alam serta sosial yang mereka saksikan sendiri.
Walaupun demikian, animisme punya pendekatan yang berbeda dengan dinamisme. Bila ditinjau dari etimologinya, animisme berasal dari bahasa Latin ‘anima’ yang berarti roh dan ‘-ism’ yang berarti keyakinan atau sistem kepercayaan. Dengan kata lain, animisme adalah kepercayaan bahwa setiap benda hidup maupun mati dianggap memiliki roh atau jiwa.
Dalam hal benda, substansi seperti pohon besar, gunung, sungai, rawa, hingga batu dipercaya terdapat “penunggunya” dan harus dihormati. Dalam hal fenomena alam, terjadinya topan, banjir, gempa bumi, serta gunung meletus dipercaya adalah hasil perbuatan makhluk gaib atau roh halus, yang barangkali membawa pesan tersirat bagi manusia. Oleh karena itu, masyarakat acap kali mengadakan ritual atau upacara tertentu untuk menjaga hubungan baik dengan roh-roh tersebut.
Lain halnya dengan dinamisme. Istilah dinamisme berasal dari bahasa Yunani ‘dunamos’ yang kemudian diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi dynamic, yaitu bermakna tentang daya, khasiat, dan kekuatan. Sederhananya, dinamisme adalah kepercayaan bahwa materi tertentu diyakini memiliki kekuatan gaib atau energi supernatural yang dapat membawa manfaat sekaligus bahaya.
Apabila animisme berfokus pada keberadaan roh, maka dinamisme lebih menitikberatkan pada kekuatan yang terkandung di dalam benda tersebut. Misalnya, keris dipercaya punya energi mistis yang dapat menolak bala, air dari sumber yang dikeramatkan dipercaya memiliki kekuatan penyembuhan, dan sebagainya. Tidak jarang kita mungkin akan menjumpai ‘benda pusaka nan kuno’ yang masih dirawat oleh orang tua atau kakek-nenek kita—menandakan bahwa mereka mengerti aspek praksis dari dinamisme.
Melansir gramedia.com, baik itu animisme maupun dinamisme memiliki ciri atau karakteristik yang berbeda. Terhadap animisme, masyarakat akan menunjukkan kecenderungan berupa percaya pada roh yang mendiami benda atau makhluk tertentu, menghormati dan menyembah roh leluhur, percaya adanya kehidupan kedua setelah kematian, mengakui adanya tempat atau benda yang dianggap suci, serta melakukan ritual atau upacara khusus secara berkala.
Terhadap dinamisme, masyarakat cenderung percaya pada kekuatan gaib dalam benda tertentu, menggunakan benda dengan kekuatan mistis untuk tujuan tertentu, dan punya paradigma bahwa energi pada suatu benda bisa berpindah.
Pengaplikasian Animisme dan Dinamisme dalam Konstelasi Sosial Nusantara
Perlu untuk kita telaah bersama, sebelum keenam agama yang diakui oleh pemerintah telah ada seperti sekarang, dulunya masyarakat berpegang pada doktrin animisme dan dinamisme. Hal ini lumrah terjadi selama era kerajaan masih eksis, bahkan nilai-nilainya terbilang langgeng hingga kini. Contoh pelaksanaannya pun cukup beragam di berbagai daerah.
Adapun pelbagai suku di Indonesia, seperti halnya suku Dayak atau Toraja yang masih menjalankan ritual tradisional dalam pemanggilan roh leluhur sebagai bentuk penghormatan kepada arwah nenek moyang serta memohon perlindungan dan petunjuk kehidupan.
Disitat dari nationalgeographic.grid.id (21/10/2021), disebutkan bahwa Kerajaan Majapahit memiliki sejarah perkembangan sistem kepercayaan yang dinamis. Agus Sanyoto melalui bukunya yang berjudul “Atlas Wali Songo” terbitan 2016, berkesimpulan bahwa di era kerajaan, masyarakat setempat di wilayah Jawa Timur (basis Majapahit) dan pulau Jawa secara umum telah menganut adanya kepercayaan lokal. Sanyoto mengemukakan tendensi masyarakat kala itu guna mempertahankan peninggalan budaya sejak zaman praaksara. Agama Hindu diketahui lebih banyak dianut oleh golongan elite di Majapahit.
“Hindu jadi agama para elite di Majapahit, begitu juga dengan upaya raja untuk menyebarluaskan ajaran Hindu kepada masyarakat kerajaan, hingga daerah-daerah vassal-nya,” ungkap beliau. Pernyataan tersebut mengindikasikan kalau agama Hindu tampak tidak sepenuhnya dianut oleh masyarakat era kerajaan.
Di kesempatan terpisah, Earl Drake dalam bukunya berjudul “Gayatri Rajapatni: Perempuan di Balik Kejayaan Majapahit” terbitan 2012, mencoba untuk mengulik kepercayaan masyarakat setempat di Majapahit yang sesungguhnya. Ia beranggapan bahwa Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan yang majemuk, terutama soal kepercayaan.
“Masyarakat Majapahit secara umum tidak menganut Hindu, mereka memiliki kepercayaan tersendiri atau agama lokal,” demikian yang dituliskan Drake. Dipastikan masyarakat masih meyakini tentang adanya kekuatan magis dari arwah nenek moyangnya.
“Kepercayaannya (masyarakat Majapahit) adalah animisme, keyakinan terhadap roh nenek moyang,” tambahnya. Maka dari itulah, disepakati oleh para ilmuwan bahwa animisme adalah kepercayaan purba di Indonesia, yang sudah hadir bahkan sejak zaman Neolitikum.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


