Kampung adat di Sulawesi menyimpan kearifan lokal, di mana masyarakat di sana memegang teguh nilai-nilai sejarah, ragam tradisi, dan budaya. Hal tersebut menjadi daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung.
Nah, Kawan GNFI, berikut adalah 6 kampung yang dapat dijadikan sarana edukasi kekayaan budaya lokal, dari Desa Malangga, Desa Ammatoa, hingga Kampung Karampuang.
Simak artikel di bawah ini, ya!
6 Kampung Adat Sulawesi untuk Sarana Edukasi Kekayaan Budaya Lokal
Desa Malangga
Desa Malangga terletak di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah. Jarak tempuhnya sekitar satu jam dari pusat kota. Desa ini menjadi salah satu destinasi wisata yang menyajikan ruang belajar tentang nilai-nilai tradisi, hubungan yang selaras antara manusia dengan alam, serta kearifan lokal yang ada di dalamnya.
Keunikan yang menarik wisatawan berkunjung ke sini adalah mereka bisa melihat rumah warga yang atapnya bisa dibuka dan ditutup atau disebut Rumah Langko. Fungsinya, supaya cahaya matahari yang masuk bisa langsung mengeringkan hasil bumi seperti coklat, kelapa, dan cengkeh. Dengan demikian, warga tidak perlu menjemurnya di halaman rumah.
Tak hanya itu, wisatawan juga bisa menonton atraksi sumpit, budaya pencak silat, mapangkilan, hingga proses pembuatan gula merah dan minyak kelapa secara tradisional.
Untuk wisata alamnya, terdapat Air Terjun Malane ditempuh kurang lebih 10 menit dari pusat desa dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Pengunjung dapat menikmati keindahan pemandangan serta hembusan angin segar.
Desa Adat Palawa
Desa Adat Palawa telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Komplek ini terkenal dengan 11 rumah Tongkonan (rumah adat Toraja) dan 17 Alang Sura (lumbung padi) yang masih terjaga keasliannya hingga kini. Lokasinya berada 12 km dari ibu kota Toraja Utara, Sulawesi Selatan.
Berdiri pada tahun 1788, Desa Adat Palawa kaya akan tradisi, budaya, serta sejarah di dalamnya. Ada beberapa versi soal sejarah lahirnya desa ini.
Dalam salah satu cerita, dikisahkan Palawa didirikan To Madao yang menikah dengan Tallo Mangka Kalena, diberkahi seorang anak bernama Datu Muane, lalu menikah dengan Lai Rangri sebagai pendiri kawasan adat ini.
Terdapat tradisi Pa’lawak pada masa itu. Jika ada musuh yang kalah dari tradisi peperangan kuno, maka darahnya diminum, dagingnya dicincang, dan dimakan sebagai kemenangan.
Namun, pada abad ke-11, tradisi diganti dengan Palawa Manuk (pemotongan ayam). Artinya, bukan manusia lagi yang dimakan dan nama tersebut diabadikan menjadi nama desa.
Kampung Ammatoa
Kampung Ammatoa berdiri sekitar 200 km arah timur Kota Makkasar, terletak di Kabupaten Bulukumba, Kecamatan Kajang. Kawasan ini masih asri dengan hampir seluruh dusun dikelilingi hutan.
Masyarakat di kampung ini teguh memegang aturan hidup yang diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyang. Salah satunya relasi dengan alam, nilai-nilai tradisi, dan kearifan lokal yang terus dijaga oleh Ammatoa sebagai pemimpin adat.
Menjadi salah satu suku paling dihormati dan ditakuti di Sulawesi Selatan, penduduk Ammatoa memiliki identitas dengan pakaian serba hitam sebagai simbol kekuatan juga derajat yang setara bagi setiap orang dengan sang pencipta.
Kampung Tua Taupe
Kampung ini merupakan salah satu destinasi budaya tertua dan paling autentik di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Kampung Tua Taupe menyimpan sejarah mengenai asal-usul masyarakat setempat dan kontruksi bangunan rumah yang menunjukan tingkatan sosial, mulai dari Banua Sara (rumah ukir), Banua Bolong (rumah hitam), Banua Rapa, dan Banua Longkarrin.
Selain itu, kampung ini juga menyimpan filosofis akulturasi antara kepercayaan lokal Aluk Todolo dengan masuknya agama Kristen.
Kampung Karampuang
Berlokasi di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, kampung adat ini menjalankan pedoman yang sudah dilakukan turun-temurun dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa di antaranya adalah menghargai tradisi leluhur, gotong royong, saling menghormati antarsesama, hingga pengajaran adat kepada generasi muda.
Pengunjung yang datang akan belajar serta mengetehui arsitektur rumah adat dengan nilai-nilai simbolik yang dikandungnya, seperti rumah adat Gella dan rumah adat To Matoa.
Beberapa peninggalan yang dijadikan spot wisata dikawasan ini terdiri dari Gua Cucukang, Batu Jong, Batu Ragae, Batu Temu Gelang, dan lainnya.
Kampung Tua Bitombang
Kampung Tua Bitombang adalah destinasi wisata budaya dan sejarah yang bisa dikunjungi di Kepulauan Selayaran, Sulawesi Selatan. Kawasan ini memiliki rumah tradisonal yang unik serta mencolok, yakni rumah panggungnya menjulang tinggi puluhan meter disesuaikan bentuk topografi tanah yang curam.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


