fungsi benteng kampung dan makna perang oleh masyarakat gayo lues zaman dulu - News | Good News From Indonesia 2026

Fungsi Benteng Kampung dan Makna Perang Oleh Masyarakat Gayo Lues Zaman Dahulu

Fungsi Benteng Kampung dan Makna Perang Oleh Masyarakat Gayo Lues Zaman Dahulu
images info

Fungsi Benteng Kampung dan Makna Perang Oleh Masyarakat Gayo Lues Zaman Dahulu


Dahulu, kampung-kampung di Gayo Lues umumnya dibangun di dataran rendah yang berada di dekat sungai. Selain mudah memperoleh air, kawasan ini juga dapat dijadikan areal persawahan dan ladang untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Di tempat-tempat seperti inilah berdiri rumah-rumah panjang khas masyarakat Gayo yang dibangun sekitar dua meter dari permukaan tanah. Bentuknya memanjang dan dihuni oleh lima hingga tujuh kepala keluarga. Setiap keluarga menempati satu ruang tersendiri, sehingga rumah itu dikenal dengan sebutan Umah Pitu Ruang.

Umah Pitu Ruang biasanya didirikan di tengah kawasan hutan yang masih lebat. Di sekelilingnya terbentang ladang, sungai, dan semak belukar yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Namun, hidup di tengah alam yang demikian juga berarti hidup berdampingan dengan berbagai ancaman.

Salah satu ancaman terbesar datang dari binatang buas, terutama harimau yang kerap turun ke kampung untuk memangsa ternak milik warga. Bagi masyarakat Gayo Lues masa lampau, ternak bukan sekadar hewan peliharaan. Kerbau, kambing, dan ayam menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi dan adat. Kerbau digunakan untuk mengolah sawah, sementara ternak lain dipelihara sebagai cadangan pangan dan kebutuhan upacara adat. Karena itu, ketika harimau mulai sering datang ke kampung, masyarakat tidak tinggal diam.

baca juga

Melalui musyawarah, warga kampung kemudian sepakat untuk membangun benteng yang mengelilingi permukiman mereka. Benteng itu dibuat dari tanah yang ditinggikan hingga mencapai satu sampai dua meter, dengan ketebalan sekitar dua sampai tiga meter. Di atas dan di sekeliling benteng ditanam bambu berduri, kayu-kayu tajam, serta semak yang rapat agar tidak mudah ditembus. Singkatnya, hampir semua kampung saat itu dibuat demikian, sehingga memang menyerupai benteng.

Benteng biasanya dibangun mengikuti bentuk kampung. Pada bagian tertentu, terutama di dekat jalan masuk, dibuat celah yang berfungsi sebagai pintu keluar-masuk. Pintu ini akan ditutup pada malam hari atau ketika warga mengetahui ada binatang buas yang berkeliaran di sekitar kampung. Dengan cara ini, masyarakat dapat melindungi rumah, ternak, dan anak-anak mereka dari ancaman yang datang dari luar.

Keadaan alam Gayo Lues yang dipenuhi bukit, sungai, dan hutan membuat benteng-benteng itu semakin kuat. Banyak kampung dibangun di tempat yang hanya memiliki satu atau dua jalur masuk. Jalur itulah yang kemudian dijaga dan diperkuat dengan benteng. Dengan demikian, masyarakat dapat mengetahui lebih awal apabila ada ancaman yang datang.

Seiring waktu, benteng tidak hanya berfungsi untuk menahan binatang buas. Ketika hubungan antarkampung mulai berkembang dan muncul ancaman dari luar, benteng juga menjadi alat pertahanan bagi masyarakat, karena bukan hal yang tidak mungkin jika musuh yang datang ke benteng bukan hanya hewan, tetapi manusia. Sehingga secara tidak tertulis sudah disepakati bahwa di dalam benteng kampung tidak boleh perang, perang harus dilakukan diluar kampung.

Musuh yang tidak mematuhi aturan ini akan disanksi sosial dengan mengucilkannya. Hukuman ini tentu sangat berat sehingga semua orang menghindari ini. Hal lain yang perlu dipatuhi adalah ketika perang yang dilakukan di luar benteng (misal terjadi perang antarkampung), tidak boleh menyerang orang-orang tua, perempuan dan anak-anak, serta musuh yang sudah menyerah dengan berlutut di kaki lawan atau menurunkan senjata.

baca juga

Keberadaan benteng dan tata cara berperang secara adat ini menunjukkan bahwa masyarakat Gayo Lues masa dahulu memiliki pengetahuan dan cara tersendiri dalam melindungi kampungnya. Mereka tidak membangun benteng dari batu besar seperti kerajaan-kerajaan lain, melainkan memanfaatkan alam yang ada di sekitar mereka.

Tanah, bambu, kayu, sungai, dan bukit diubah menjadi pelindung yang efektif. Mirisnya, dalam keadaan inilah Belanda tidak tahu, mungkin juga tidak mau tahu tentang aturan perang di Gayo Lues ini, sehingga ketika mereka datang ke daerah ini, kekejaman mulai mereka tunjukkan, masuk benteng kampung dan disana mereka membunuh masyarakat termasuk perempuan, orang tua, bahkan anak-anak di dalam benteng.

Hal ini membuat orang Gayo dan Alas menganggap bahwa Belanda adalah bangsa yang tidak tahu aturan perang dan tidak pandai berperang. Hal inilah yang terjadi di 7 benteng pertahanan di Gayo Lues pada 1904, mulai dari benteng Pasir, Gemuyang, Durin, Badak, Rikit Gaib, Penosan, dan Tampeng.

Kini, sebagian besar benteng kampung mungkin telah hilang, bahkan cerita ini bagi generasi sekarang mungkin cukup asing. Ada benteng yang sudah rata dengan tanah, tertutup semak, atau berubah menjadi lahan pertanian. Namun, kisah tentang benteng kampung masih hidup dalam ingatan orang-orang tua. Benteng itu bukan sekadar tumpukan tanah dan bambu, melainkan lambang kebersamaan masyarakat Gayo Lues dalam menjaga kampung, keluarga, dan kehidupan mereka.

Harapannya, semoga pemerintah setempat yang dalam hal ini Pemkab Gayo Lues dapat membuatkan tugu sebagai simbol dan pengingat bahwa di 7 benteng yang disebutkan diatas pernah terjadi perjuangan yang luar biasa dari masyarakatnya pada zaman dahulu dalam menentang penjajahan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.