Lahirnya karya Rusdi Mathari yang bertajuk "Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya: Kisah Sufi dari Madura" menandai sebuah titik balik penting dalam diskursus literatur keagamaan populer di Indonesia.
Buku ini bukan sekadar narasi fiksi, melainkan sebuah dekonstruksi terhadap kemapanan berpikir umat yang sering kali terjebak dalam formalisme ritual tanpa menyentuh kedalaman esensi.
Sejarah penulisan buku ini berakar kuat pada ekosistem media digital, bermula sebagai serial khusus Ramadan di situs Mojok.co selama dua tahun berturut-turut, yakni pada periode 2015 dan 2016.
Respon publik yang masif, dengan jumlah pembaca mencapai lebih dari setengah juta orang di platform digital. Mengukuhkan transisi narasi ini dari sekadar kolom mingguan menjadi sebuah artefak literasi yang fundamental bagi pencarian spiritualitas kontemporer.
| Identitas Buku | Detail Informasi |
| Judul Utama | Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya |
| Subjudul | Kisah Sufi dari Madura |
| Penulis | Rusdi Mathari (1967-2018) |
| Penerbit | Buku Mojok |
| Tahun Terbit Pertama | September 2016 |
| Total Halaman | xviii + 226 Halaman |
| Rating Goodreads | 4.42 dari 5 bintang |
Genealogi Penulisan dan Warisan Intelektual Rusdi Mathari
Memahami isi buku ini menuntut pemahaman terhadap sosok di balik layarnya. Rusdi Mathari bukan sekadar penulis; ia adalah seorang jurnalis yang memiliki kepekaan tajam terhadap realitas sosial dan spiritualitas yang membumi.
Ia tidak menggunakan bahasa langit yang sulit dipahami; sebaliknya, ia menggunakan analogi-analogi "kasar" seperti kotoran manusia, nyamuk, dan anjing untuk menjelaskan konsep-konsep Pendidikan makrifat yang sangat abstrak.
Karyanya ini terus didiskusikan karena relevansinya yang semakin kuat di tengah fenomena keberagamaan yang semakin politis dan permukaan yang timpang.
Buku tersebut disusun secara kronologis berdasarkan dua periode bulan suci, yang masing-masing mencerminkan kedalaman refleksi yang berbeda.
Bagian Ramadan Pertama terdiri dari 14 mutiara hikmah yang berfokus pada pengenalan karakter dan peletakan dasar-dasar kritik terhadap praktik ibadah harian.
Bagian Ramadan Kedua, yang mencakup 16 mutiara hikmah, bergerak ke arah konflik yang lebih substansial dan tragis.
Antara Kegilaan dan Kesucian
Cak Dlahom adalah seorang duda tua yang tinggal di gubuk dekat kandang kambing milik Pak Lurah. Deskripsi fisik dan sosialnya yang marginal, dianggap gila, dan sering kali melakukan tindakan nyeleneh adalah sebuah strategi sastra untuk menghadirkan sosok "The Holy Fool" atau "Si Gila yang Suci".
Nama "Dlahom" sendiri diambil dari diksi bahasa Jawa Timur yang merujuk pada kebodohan atau kelambanan berpikir, sebuah ironi karena justru ia adalah orang yang paling tajam pikirannya dalam memahami hakikat ke-Tuhanan.
Cak Dlahom berfungsi sebagai cermin bagi warga Desa Ndusel lainnya. Ia tidak pernah merasa pintar di sisi lain, terdapat Mat Piti, karakter yang merepresentasikan pembaca pada umumnya.
Mat Piti adalah sosok yang dermawan dan rajin beribadah. Namun, masih sering terjebak dalam logika transaksional dengan Tuhan menghitung pahala, mengharap pujian, dan merasa gelisah jika ibadahnya tidak sesuai dengan pakem formal.
Melalui dialog antara Cak Dlahom dan Mat Piti menguraikan kerumitan psikologi spiritual manusia yang sering kali menipu diri sendiri dengan atribut kesalehan.
Judul buku ini merupakan sebuah tesis filosofis yang mendalam mengenai posisi manusia di hadapan Sang Pencipta. Manusia modern sering kali menderita penyakit "merasa pintar".
Kepintaran ini dipahami bukan sebagai anugerah, melainkan sebagai properti milik pribadi yang digunakan untuk meninggikan diri di hadapan orang lain, klaim atas kepintaran adalah bentuk kesombongan intelektual yang menghalangi seseorang untuk mencapai makrifat.
Namun, yang lebih mengejutkan adalah bagian kedua dari judul tersebut: "Bodoh Saja Tak Punya". Ungkapan ini mengacu pada hakikat kefakiran manusia yang absolut.
Jika ilmu adalah milik Allah dan diberikan kepada manusia hanya sebatas kehendak-Nya, maka pada dasarnya manusia tidak memiliki apa pun, bahkan kebodohan itu sendiri bukan milik manusia.
Kritik sosial yang paling tajam dalam buku ini terwujud dalam kisah Istri Bunali, seorang janda miskin yang hidup dalam penderitaan di Desa Ndusel.
Di saat warga desa, sedang bersemangat mengumpulkan dana untuk merenovasi masjid agar terlihat megah, Istri Bunali justru meregang nyawa karena kelaparan dan penyakit.
Tragisnya, ia mengakhiri hidupnya dengan gantung diri karena tidak tahan lagi menghadapi tekanan ekonomi dan ketidakpedulian tetangganya.
Kematian ini menjadi momentum bagi Cak Dlahom untuk melakukan protes keras. Ia menggugat definisi masjid sebagai sekadar bangunan fisik. Baginya, pembangunan masjid yang megah di atas penderitaan warga adalah bentuk kegagalan beragama yang paling fundamental.
"Apa sesungguhnya arti masjid ini bagi kita?" tanya Cak Dlahom kepada warga yang terperangah. Ia menegaskan bahwa Allah tidak butuh masjid yang mewah.
Namun, Allah hadir dalam diri orang-orang yang lapar dan menderita. Melalui kisah ini, menekankan bahwa kesalehan sosial jauh lebih utama daripada kesalehan simbolik.
Antara Kewajiban dan Cinta
Lebih jauh, Cak Dlahom menekankan bahwa shalat yang hanya sebatas gerakan lahiriah tanpa pemahaman batin adalah sia-sia. Ia mengkritik mereka yang merasa sudah "bertemu Allah" di masjid, namun abai ketika melihat "Allah" dalam rupa orang miskin yang kelaparan.
Salah satu pencapaian naratif Rusdi Mathari adalah kemampuannya mempermainkan batas antara kewarasan dan kegilaan.
Apakah orang yang berteriak takbir, tetapi merasa lebih besar dari Tuhan adalah orang waras? Apakah masyarakat yang merayakan Ramadan dengan kemewahan sementara tetangganya kelaparan adalah masyarakat yang waras?
Melalui pendekatan analisis wacana kritis, dapat dilihat bahwa label "gila" yang disematkan pada Cak Dlahom adalah mekanisme pertahanan sosial (social defense mechanism).
Spiritualitas di Tengah Hiruk-Pikuk Duniawi
Pesan dalam buku ini sangat relevan dengan dinamika masyarakat modern, termasuk konteks politik. Rusdi Mathari menyindir kecenderungan manusia untuk menjadi "pengamat" bagi kesalahan orang lain namun buta terhadap aib sendiri.
Buku ini bukan sekadar kumpulan cerpen komedi, melainkan sebuah manual spiritual untuk bertahan di tengah godaan ego dan formalisme agama.
Rusdi Mathari telah berhasil menerjemahkan ajaran tasawuf yang kompleks ke dalam dialektika yang sangat manusiawi dan membumi, Cak Dlahom bukan sosok yang harus ditiru tindakannya secara harfiah, melainkan harus diteladani kejujuran batinnya dalam mengakui kefakiran di hadapan Tuhan.
Melalui 30 kisah yang "mengaduk-aduk nurani" ini, pembaca diajak untuk terus bertanya pada diri sendiri "Tunjukkanlah aku jalan yang lurus," sebuah doa yang dibaca minimal 17 kali sehari. Namun, sering kali hanya lewat di tenggorokan tanpa menyentuh hati.
Warisan intelektual melalui buku ini akan terus menjadi "tamparan" yang menyegarkan bagi siapa pun yang mulai merasa sudah sampai di puncak kesalehan.
Buku ini adalah sebuah ajakan untuk kembali melihat ke dalam diri, mengenali segala "kantong kotoran" yang kita bawa setiap hari, dan belajar untuk benar-benar menjadi hamba yang tidak memiliki apa-apa selain ketergantungan mutlak kepada-Nya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


