Bila ditarik jauh ke belakang, perkembangan manusia dari perspektif paleontologi sangat unik sekaligus menarik untuk dipelajari. Sebelum sains mengakui manusia modern saat ini sebagai Homo sapiens, manusia telah mengalami perubahan berulang kali.
Menyadur smithsonianmag.com (2/2/2021), salah satu nenek moyang manusia yang paling awal diketahui, Sahelanthropus, memulai transisi yang lambat bermula dari gerakan macam kera sekitar enam juta tahun yang lalu, sedangkan Homo sapiens baru muncul lebih dari lima juta tahun kemudian.
Dalam masa interim yang panjang tersebut, beragam spesies manusia hidup, berevolusi lalu punah, bercampur dan terkadang melakukan kawin silang sehingga menjadikan anatomi mereka perlahan berubah, begitu juga dengan kemampuan berpikir sebagaimana yang tercermin pada alat dan teknologi mereka yang memfosil.
Para ilmuwan menyatakan kebulatan suaranya bahwa bukti awal spesies manusia modern telah banyak ditemukan di wilayah Afrika Selatan dan Afrika Timur, bukan di Maroko. Akan tetapi, fragmen tengkorak, rahang, gigi, serta fosil lainnya yang berusia 300.000 tahun yang ditemukan di Jebel Irhoud, suatu situs kaya yang juga menyimpan peralatan batu canggih, adalah sisa-sisa Homo sapiens tertua yang pernah ditemukan. Adapun sisa dari lima individu di Jebel Irhoud menunjukkan karakteristik wajah yang terbilang modern, bercampur dengan karakteristik lain seperti bentuk tengkorak memanjang yang merefleksikan manusia purba.
Fosil-fosil kuno lainnya yang sering dikelompokkan sebagai Homo sapiens awal berasal dari Florisbad, Afrika Selatan (diprediksi berusia 260.000 tahun) dan Formasi Kibish di sepanjang Sungai Omo di Ethiopia (diprediksi berusia 195.000 tahun). Apapun itu, yang pasti ilmuwan masih memperdebatkan penemuan fosil mana yang mewakili manusia modern, mengingat banyaknya diversitas karakteristik yang saling bersinggungan pada setiap fosil yang ada.
Nah, perlu diketahui bahwa manusia purba sudah ‘memperlihatkan’ kekhasan hidup yang tidak jauh berbeda dengan manusia kontemporer. Kekhasan hidup yang dimaksud ini dapat dijumpai pada berbagai peninggalan arkeologis yang memiliki nilai historis, tidak hanya berupa fosil semata. Di Indonesia khususnya, terdapat satu situs yang tidak boleh diabaikan oleh kita, yaitu Bukit Kerang.
Profil
Dikutip dari budayaaceh.com, Bukit Kerang berlokasi di Lorong Pintu Air Desa Mesjid, Sungai Iyu, Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh 24472. Adapun garis lintang (latitude) yang dimiliki adalah 4.391714550053259 dan garis bujur (longitude) adalah 98.17999229444216. Bukit Kerang sendiri telah menjadi cagar budaya dengan dikategorikan sebagai situs sejak ditetapkan pada 1 Januari 1970, dengan nomor registrasi CB.5050.19700101.00211.
Disebut bahwa Bukit Kerang hingga saat ini dalam kondisi utuh, terpelihara, dan belum pernah dilakukan pemugaran. Status pengelolaannya berada dalam kuasa BPCP Aceh dengan batas zonasi dikelilingi oleh perkebunan kelapa sawit.
Bukit Kerang berdiri di atas lahan seluas 36 x 31 meter persegi. Ketinggian situs yang berbentuk gundukan ini sekitar 4,5 meter dengan luas kurang-lebih 25 x 20 meter. Sebagai tambahan informasi, jarak tempuh dari pusat pemerintahan menuju lokasi kurang-lebih berjarak 23 kilometer, atau sekitar 50 menit perjalanan untuk sampai di Kecamatan Bendahara. Dihimbau untuk berhati-hati ke sana dikarenakan situs ini tepat berada di tengah-tengah perkebunan dengan medan yang cukup sulit diakses.
Bukti Konkret Adanya Aktivitas Manusia Purba: Menjadi Objek Wisata Edukatif
Adanya Bukit Kerang telah memperteguh statusnya sebagai wujud yang autentik mengenai aktivitas rutin yang dilakukan manusia purba. Diinformasikan dari berbagai sumber, kala itu manusia masih belum mengenal kebiasaan bercocok tanam dan beternak, sehingga upaya dalam memperoleh bahan pangan bagi komunitas adalah dengan berburu dan mengumpulkan makanan (hidup nomaden).
Diperkirakan pola hidup dengan berburu dan mengumpulkan makanan terjadi pada zaman Paleolitikum dan Mesolitikum. Adapun hewan yang diburu manusia purba meliputi rusa, banteng, kerbau, kambing, ikan, dan berbagai jenis edible animal lainnya.
Menyitat zenius.net (30/7/2022), ‘teknologi canggih’ yang muncul selama masa berburu dan mengumpulkan makanan cukup bervariasi nan primordial. Jika alat khas manusia modern adalah smartphone dan komputer, misalnya, maka alat pada zaman dulu meliputi kapak perimbas, alat serpih (flakes), alat dari tulang, kapak genggam, dan kapak pendek. Seluruh peralatan tersebut tidak jauh-jauh dari fungsinya untuk memecah suatu benda keras, menusuk, memotong buah atau daging hewan buruan, hingga melindungi diri dari ancaman.
Lebih lanjut, pada masa ini pula, spesies manusia yang hidup adalah Homo erectus dan Meganthropus paleojavanicus yang mendiami kepulauan Nusantara. Kelompok manusia ini memahami bahwa bergabung dalam komunitas akan meningkatkan harapan hidup lebih lama. Bermula dari sini, strata sosial awal mulai dibentuk, dengan kaum pria ditugaskan berburu sedangkan kaum wanita bertugas meramu atau memasak makanan. Akibat dari cara hidup demikian, kjokkenmoddinger mulai hadir dalam peradaban.
Istilah kjokkenmoddinger berasal dari bahasa Denmark, dengan gabungan kata ‘kjokken’ berarti dapur dan ‘modding’ berarti sampah. Dengan pemaparan sebelumnya, Bukit Kerang merupakan kjokkenmoddinger asli Nusantara yang masih eksis di Republik Indonesia. Dilansir dari acehnews.net (31/10/2014), Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Aceh Tamiang, Yetno, S.Pd. menjelaskan hasil studi arkeolog bahwa Bukit Kerang merupakan tumpukan sisa makanan pokok manusia purba ras mongoloid pada zaman Mesolitikum, sekitar tahun 5.000 hingga 7.000 tahun silam.
Yang mengejutkan, Bukit Kerang diklaim menjadi satu-satunya situs arkeologis yang masih dinyatakan utuh secara substansial, tidak hanya secara nasional tetapi juga regional. Di masa lalu, gaya hidup dengan membuat kjokkenmoddinger ini terjadi di sepanjang pesisir Sumatra hingga ke beberapa wilayah di Asia Tenggara, seperti Malaysia, Tailan, Kamboja, dan sebagainya. Tak ayal, situs ini memang berpotensi menjadi destinasi wisata yang mampu mengedukasi para turis, khususnya bagi pelajar/mahasiswa.
Rentan terhadap Vandalisme
Sayangnya, Bukit Kerang tidaklah lepas dari ancaman-ancaman perusakan. Mayoritas sumber menyebutkan fosil moluska yang ada sering diambil untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku kapur. Selain itu, kegiatan eksplorasi yang tidak terkontrol turut mengakibatkan kuantitas kerang menurun drastis.
“Dulu, dari hasil penelitian para arkeolog, ketinggian Bukit Kerang dahulunya mencapai tujuh meter, namun kini semakin berkurang. Mengalami eksplorasi hingga ketinggiannya kini hanya sekitar tiga hingga empat meter saja,” tutur Yetno dalam keterangannya.
Mengingat nilai historis yang sangat besar, marilah kita bersama-sama menjaga kelestarian Bukit Kerang. Hal ini tentunya tidak hanya membanggakan bagi masyarakat Aceh Tamiang, tetapi juga bagi Indonesia. Dalam jangka panjang, situs ini dapat berpotensi menjadi bargaining power demi kemaslahatan nasional, terutama dari aspek pariwisata maupun sejarah purbakala.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


