bagaimana thawalib mengubah pengajian tradisional menjadi sekolah modern dan gerakan pemikiran - News | Good News From Indonesia 2026

Bagaimana Thawalib Mengubah Pengajian Tradisional Menjadi Sekolah Modern dan Gerakan Pemikiran

Bagaimana Thawalib Mengubah Pengajian Tradisional Menjadi Sekolah Modern dan Gerakan Pemikiran
images info

Bagaimana Thawalib Mengubah Pengajian Tradisional Menjadi Sekolah Modern dan Gerakan Pemikiran


“Thawalib dan Diniyyah sumber modernisasi pelajaran agama dan dapur perjuangan kemerdekaan. Pelajaran di Thawalib berkesan sekali pada jiwa saya. Thawalib membasmi taklid buta,” tulis H. Oemar Bakry dalam autobiografinya Dari Thawalib Ke Dunia Modern (1984).

Dalam tulisan itu, Oemar Bakry tidak hanya mengenang romantisme masa sekolah. Ia juga menjelaskan kenapa Padang Panjang bisa melahirkan begitu banyak tokoh besar.

Padang Panjang merupakan salah satu kota di Provinsi Sumatera Barat. Kota ini memiliki luas wilayah paling kecil di antara daerah lain di provinsi tersebut.

Meski demikian, Padang Panjang cukup istimewa. Daerah ini dikenal sebagai Kota Serambi Mekkah dan juga dikenal sebagai Mesir van Andalas.

Jika ditarik kebelakang, Padang Panjang memang punya riwayat pendidikan dan pengajaran agama yang cukup kental.

Sebagaimana dilansir dari laman Thawalib, jauh sebelum 1900, sebuah surau di Jembatan Besi sudah jadi tempat orang-orang belajar agama. Saat itu, jembatannya masih kayu beratap. Baru kemudian diganti dengan besi, dan dari situlah nama Jembatan Besi melekat.

Di surau itu, Syekh Abdullah mengajar dengan sistem halaqah, yaitu murid duduk melingkar di lantai menghadap guru. Halaqah adalah metode tradisional yang mengandalkan kedekatan langsung antara murid dan guru. Dengan posisi duduk tanpa sekat membuat murid merasa terhubung dengan guru.

Pada tahun 1907, Syekh Abdullah pindah ke Padang, dan pengajian dilanjutkan oleh Syekh Daud Rasjidi. Di bawah asuhannya, jumlah murid semakin bertambah yang datang dari berbagai daerah di Minangkabau.

Ketika Syekh Daud berangkat ke Makkah untuk belajar kepada Syekh Ahmad Chatib, pengajaran dilanjutkan oleh Syekh Abdul Lathif Rasjidi. Lalu, pada 1911, kepemimpinan beralih ke Syekh Abdul Karim Amarullah, yang dikenal sebagai Haji Rasul.

baca juga

dari Pengajian ke Organisasi

Pada tahun 1911, organisasi bernama Sumatera Thuwailib dibentuk. Organisasi ini kemudian dikenal sebagai Sumatera Thawalib.

Tiga tahun setelah organisasi mulai terbentuk, tepatnya pada 1914, pendidikan di Surau Jembatan Besi mulai dibuat berjenjang. Kelas dibagi menjadi tujuh tingkat. Begitupun kitab disusun sesuai jenjang.

Lalu, pada 1918, sepulang dari lawatannya ke Jawa dan pertemuannya dengan K.H. Ahmad Dahlan, Haji Rasul membawa gagasan baru tentang cara mengajar. Gedung baru dibangun, ruang kelas dilengkapi meja dan bangku, dan suasana belajar tidak lagi di lantai seperti sebelumnya. Model ini menyerupai sekolah modern yang saat itu berkembang di bawah pemerintah kolonial.

Sejarawan Taufik Abdullah dalam School and Politics mencatat bahwa sejak masa itu metode halaqah mulai ditinggalkan. Sebagai gantinya, sistem klasikal mulai digunakan. Sistem klasikal yaitu metode belajar dengan pembagian kelas berdasarkan tingkat dan kurikulum yang lebih teratur. Perubahan ini bukan sekadar soal fasilitas, tetapi juga cara berpikir.

Thawalib pun dikenal sebagai pelopor sekolah Islam modern pada masa Hindia Belanda.

Pada tahun yang sama, 1918, mereka mulai menerbitkan majalah Al Munir. Isinya tidak hanya pelajaran agama, tetapi juga jawaban atas pertanyaan masyarakat dan kritik terhadap praktik yang dianggap menyimpang.

Tulisan-tulisan di dalamnya banyak menyoroti khurafat, takhayul, dan bid’ah, yang saat itu menjadi bahan perdebatan di tengah masyarakat. Dari sini terlihat bahwa Thawalib bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang diskusi yang hidup.

Memasuki 1920, jaringan Thawalib semakin kuat setelah berbagai perguruan yang tersebar disatukan dalam satu kepengurusan. Langkah ini membuat gerakan pendidikan mereka lebih terarah.

Setahun kemudian, muncul inisiatif yang cukup berbeda dari kebanyakan lembaga pendidikan saat itu. Thawalib mendirikan “Buffet Merah”, tempat yang menyediakan makanan sekaligus kebutuhan sehari-hari pelajar, lengkap dengan layanan seperti laundry dan pangkas rambut. Upaya ini menunjukkan bahwa pendidikan yang mereka bangun tidak hanya berfokus pada ilmu, tetapi juga pada kemandirian hidup.

baca juga

Jalan Terjal Thawalib

Perjalanan itu tidak selalu mulus. Pada 1926, gempa besar mengguncang Padang Panjang, bertepatan dengan kembalinya Haji Rasul ke kampung halamannya. Kepemimpinan kemudian beralih ke Abdul Hamid Hakim.

Di tengah kondisi sulit, Thawalib tetap berjalan, meski harus menghadapi tekanan lain dari situasi politik, termasuk perpecahan akibat pengaruh ideologi luar pada masa kolonial, hingga gangguan kegiatan belajar setelah kemerdekaan saat terjadi pergolakan PRRI.

Kondisi terberat terjadi pada 1963. Gedung rusak dan jumlah murid tinggal puluhan. Ada kisah yang terus diingat, ketika hujan turun, murid belajar dalam kondisi seadanya seperti berteduh di bawah rumpun bambu. Dalam situasi itu, Buya Mawardi Muhammad tetap mempertahankan kegiatan belajar. Ia bersama guru lain mengajar tanpa menjadikan gaji sebagai tujuan utama. Dari ketekunan itulah, perlahan murid kembali berdatangan dari berbagai daerah.

Cara Thawalib mendidik sejak awal memang tidak menekankan pada hal-hal teknis semata. Prof. Zainal Abidin Ahmad dalam Memperkembang dan Mempertahankan Pendidikan Islam di Indonesia (1976) menulis, “Ia bukan mengajarkan soal-soal teknis... tetapi memberikan prinsip-prinsip pegangan...”.

Prinsip inilah yang membuat pendidikan di Thawalib lebih menekankan pada cara berpikir, keberanian berpendapat, dan kemampuan melihat persoalan secara utuh. Dari pola seperti itu, tidak mengherankan jika alumninya kemudian tersebar di berbagai bidang kehidupan.

Kini, Thawalib berdiri sebagai lembaga pendidikan yang utuh. Buya Mawardi Muhammad memimpin hingga 1994, saat jumlah santri sudah mencapai ribuan dari berbagai wilayah di Indonesia. Perkembangan itu terus berlanjut, termasuk dengan dibukanya pendidikan untuk perempuan pada 1989 melalui Thawalib Putri, lalu jenjang pendidikan lain seperti Taman Kanak-kanak Al-Qur’an dan Madrasah Ibtidaiyyah Unggul Terpadu pada awal 2000-an.

Hari ini, Thawalib tidak lagi sekadar dikenal sebagai surau atau tempat pengajian seperti awal berdirinya. Ia telah menjadi lembaga pendidikan dengan sistem lengkap, dari tingkat dasar hingga menengah, dengan ribuan santri yang datang dari berbagai daerah.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.