“Kalau ditanya sejak kapan saya terlibat dalam membersihkan ikan sapu-sapu, ya dari kecil banget ya. Seingat saya sekitar SMP,” ujarnya.
Sejak dari SMP hingga sekarang, Arief Kamaruddin rajin memburu ikan sapu-sapu di sungai Ciliwung. Bukan karena hobi, tapi kerusakan ekosistem membuat ia terpaksa melakukan itu.
Arief tidak berangkat atau mendeklarasikan diri sebagai aktivis. Sejak dulu, ia hanya anak yang suka mencari ikan.
Dari SMP, ia sudah terbiasa menjala di sungai. Alih-alih mendapat ikan konsumsi seperti nila atau mujair, tidakseimbangan ekosistem membuat Arief kerap mendapati ikan sapu-sapu dalam jumlah besar.
“Saya ngejala itu enggak pengen dapat sapu-sapu. Emang pengen dapat ikan yang bisa dikonsumsi. Tapi karena saking banyaknya, dapetnya sapu-sapu mulu. Di situlah timbul keresahan, kenapa sih sapu-sapu banyak?”
Kawan, sebagaimana yang sudah diketahui, ikan sapu-sapu sendiri dikenal sebagai spesies invasif. Sebutan ini digunakan untuk makhluk hidup yang bukan berasal dari ekosistem asli, tetapi masuk dan berkembang cepat hingga mengganggu keseimbangan lingkungan. Dalam kasus ini, ikan sapu-sapu mendominasi habitat sungai dan bersaing dengan ikan lokal.
Apalagi, ikan ini juga menggali lubang-lubang di tepi sungai sebagai tempat telur, merusak struktur tanah, dan menyingkirkan ikan-ikan lokal yang dulu mendominasi Ciliwung. Hal ini menyebabkan kerusakan di Ciliwung makin parah.
Kini, di usianya 34 tahun, aktivitas berburu ikan sapu-sapu tetap ia lakukan. Bedanya, Arief kerap mengunggah aktivitasnya di media sosial agar membuka mata banyak orang tentang dampak dari berlaku sembarangan kepada alam.
“Saya cuma melakukan yang saya bisa, atas dasar keresahan pribadi, lalu saya tuangkan di sosial media,” tuturnya.
Menangkap 50 Ekor Selama Tiga Jam
Dalam ingatannya, dalam satu kali turun ke sungai selama satu hingga tiga jam, Arief bisa menangkap 30 hingga 50 ekor ikan sapu-sapu. Angka ini cukup fantastis. Artinya, populasi ikan tersebut begitu masif.
Nah, masalahnya Arief nyebur ke sungai tidak hanya dihadapkan ikan sapu-sapu. Kondisi dan cemaran di sungai Ciliwung juga membuat Arief harus ekstra hati-hati.
“Kondisi Ciliwung itu sangat menantang. Banyak benda berbahaya seperti paku, beling, ranting tajam. Ada risiko tenggelam, bahkan tergigit ular berbisa,” ungkapnya.
Arief menambahkan, kondisi sungai itulah yang menurutnya turut memperparah populasi ikan sapu-sapu di sungai.
“Penyebab utama rusaknya ekosistem itu sampah dan limbah. Sapu-sapu itu memperparah, tapi bukan satu-satunya masalah,” kata Arief.
Ya, dalam konteks ekologi, kerusakan sungai biasanya disebabkan oleh pencemaran. Limbah rumah tangga dan industri membuat kualitas air menurun. Ikan lokal yang sensitif mati atau berkurang. Sementara ikan sapu-sapu, yang lebih tahan terhadap kondisi buruk, justru berkembang pesat.
Akibatnya, terjadi ketidakseimbangan ekosistem.
Melawan Ikan Sapu-Sapu adalah Sebuah Kemustahilan
Mengurangi populasi ikan sapu-sapu bukan perkara mudah. Mereka berkembang biak cepat dan mampu bertahan di kondisi ekstrem.
“Itu kayak ngalahin lawan yang nggak bisa dikalahin. Hampir mustahil,” ucap Arief.
Ia berani menyebut seperti itu karena sudah bertahun-tahun ia terjun ke Ciliwung, tapi kasus ikan sapu-sapu tak pernah tuntas. Hal ini turut diperparah dengan perilaku masyarakat sekitar.
Karena itu, kini Arief menawarkan pendekatan berbeda. Langkah yang diambil bukan hanya memusnahkan, tetapi memanfaatkan ikan sapu-sapu. Tapi dengan catatan tidak untuk konsumsi.
Sebenarnya, bisa-bisa saja ikan sapu-sapu di makan. Akan tetapi, karena ia tahan hidup di air yang tercemar, ini menimbulkan kekhawatiran soal keamanan konsumsi. Ikan dari perairan tercemar berpotensi mengandung logam berat seperti merkuri atau timbal. Zat ini bisa terakumulasi di tubuh ikan dan berbahaya jika dikonsumsi terus-menerus.
Untuk itu, ia punya gagasan lain yang dinilai lebih aman.
“Saya kasih gambaran seperti ini ya, misalnya, ke depan sudah ada penelitian tentang sapu-sapu dan bisa dijadiin pupuk… Kalau sapu-sapu pada akhir punya nilai ekonomis, pasti akan banyak yang nyari itu,” kata dia.
Pada akhirnya, meskipun sulit dikendalikan, Arief berharap masyarakat makin melek tentang dampak dari kerusakan lingkungan.
“Harapan saya, gara-gara sapu-sapu jadi perhatian, orang makin melek bahwa masalah sebenarnya adalah sampah dan limbah,” tuturnya.
Ia juga menekankan bahwa solusi memberantas ikan sapu-sapu tidak bisa parsial. Perbaikan sungai harus dilakukan bersama.
“Kalau cuma satu wilayah yang bergerak, hasilnya nggak akan maksimal. Harus kerja sama semua pihak,” tandasnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


