Main tuncik anak adalah salah satu permainan tradisional yang berasal dari daerah Sumatera Barat. Pernahkan Kawan mendengar atau bahkan memainkan permainan tradisional ini sebelumnya?
Bagi masyarakat Sumatera Barat, khususnya yang paham dengan bahasa Minang, nama permainan ini terdengar di telinga. Sebab kata "Tuncik" dalam permainan ini memiliki makna yang cukup "nyeleneh" dan jarang digunakan secara umum.
Meskipun demikian, nama permainan ini tidak sepenuhnya sama seperti makna pada umumnya. Sebab kata "Tuncik" dalam permainan ini berkaitan dengan proses bermain yang dijalani oleh setiap pemainnya.
Bagaimana pembahasan lebih lanjut seputar permainan tradisional dari Sumatera Barat tersebut?
Mengenal Main Tuncik Anak, Permainan Tradisional dari Sumatera Barat
Main tuncik anak menjadi salah satu permainan tradisional yang dulunya banyak dimainkan di daerah Sumatera Barat. Tidak diketahui secara pasti tempat dan kapan pertama kali permainan ini mulai dimainkan.
Dinukil dari buku Permainan Rakyat Daerah Sumatera Barat, nama permainan ini terdiri dari dua kata berbeda, yakni "Tuncik" dan "Anak." Dalam bahasa Minang, kata "Tuncik" biasanya dikonotasikan dengan situasi di mana sebuah benda menabrak bagian belakang benda lain yang ada di depannya.
Misalnya, sebuah mobil menabrak bagian belakang mobil lainnya yang tengah parkir. Situasi ini sering disebut sebagai mobil yang menabrak tersebut sudah "menoncik" atau "menuncik" mobil yang tengah parkir.
Namun bahasa ini biasanya tidak umum digunakan dalam percakapan sehari-hari. Biasanya kata "Toncik" digunakan untuk memberikan kesan yang lebih santai dan lucu jika dibandingkan dengan padanan lain yang umum digunakan.
Sementara itu, kata "Anak" merujuk pada benda yang digunakan dalam permainan ini, yakni batu berukuran pipih. Dari kedua kata tersebut, bisa disimpulkan jika main toncik anak adalah permainan di mana seorang pemain akan melempar batu untuk mengenai batu "Anak" sebagai target utamanya.
Persiapan Sebelum Bermain
Permainan main toncik anak merupakan salah satu permainan yang bersifat kompetitif. Para pemain akan saling bersaing secara individu dalam permainan ini.
Biasanya permainan tradisional dari Sumatera Barat ini dimainkan oleh 2 hingga 7 orang anak. Para pemain mesti memilih satu buah batu pipih yang nantinya akan digunakan sebagai gundu mereka masing-masing.
Sementara itu, semua pemain juga mesti menentukan satu buah batu yang digunakan sebagai "Anak." Jika semua persiapan sudah ada, maka permainan main toncik anak bisa dimulai.
Cara Bermain
Umumnya permainan ini dimainkan di area terbuka, seperti pekarangan rumah dan sejenisnya. Pada awalnya, semua pemain bisa membentuk area permainan terlebih dahulu.
Di satu sisi lapangan akan dibuat sebuah lingkaran yang nantinya diletakkan batu "Anak" di tengahnya. Setelah itu, akan dibuat garis yang berjarak 6 hingga 10 meter dari lingkaran tersebut sebagai tempat melempar gundu.
Langkah selanjutnya, semua pemain bisa menentukan urutan melempar terlebih dahulu. Pemain pertama kemudian bisa berdiri di garis tempat melempar gundu dan mengarahkan lemparannya ke batu "Anak."
Para pemain mesti bisa mengenai batu "Anak" agar keluar dari lingkaran. Jika dalam satu giliran belum ada yang bisa mengenai batu "Anak", maka para pemain bisa melempar dari posisi terakhir gundu mereka berada.
Nantinya pemain yang berhasil mengenai batu "Anak" akan keluar dari permainan. Pemain terakhir yang tidak berhasil mengenai batu "Anak" akan menjadi pihak yang kalah dalam permainan ini.
Proses terakhir dari main toncik anak adalah hukuman bagi pemain yang kalah. Pemain yang kalah akan memegang batu "Anak" dan berdiri di garis awal tempat melempar gundu.
Setelah itu, dia mesti melempar batu "Anak" agar bisa mendarat tepat di lingkaran. Jika gagal mendarat dengan sempurna, pemain lain nantinya berkesempatan untuk melempar batu "Anak" tersebut secara bergantian agar makin jauh dari lingkaran.
Nantinya permainan akan berakhir begitu pemain yang kalah berhasil melemparkan batu "Anak" tepat kembali ke lingkaran. Setelah itu, permainan main toncik anak bisa dimulai kembali dari awal dengan proses yang sama.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


