menjadi kartini di era serba lebih refleksi menjaga diri dan solidaritas - News | Good News From Indonesia 2026

Menjadi Kartini di Era "Serba Lebih": Refleksi Menjaga Diri dan Solidaritas

Menjadi Kartini di Era "Serba Lebih": Refleksi Menjaga Diri dan Solidaritas
images info

Menjadi Kartini di Era "Serba Lebih": Refleksi Menjaga Diri dan Solidaritas


Lebih dari seabad yang lalu, Raden Ajeng Kartini menggoreskan pena untuk memimpikan kebebasan bagi kaumnya. Hari ini, pintu-pintu yang dulunya tertutup rapat telah terbuka lebar. Perempuan kini bisa menjadi apa saja—mulai dari astronot hingga CEO.

Namun, di balik kemajuan tersebut, muncul lapisan tantangan baru yang seringkali luput dari perayaan: tuntutan lingkungan yang semakin tidak masuk akal.

Kartini hari ini tidak hanya berjuang melawan buta huruf, tetapi juga melawan kelelahan mental akibat ekspektasi sosial yang berlipat ganda.

Tuntutan yang semakin menjadi, memberi banyak PR bagi perempuan untuk menjadi lebih ekstra. Dulu, domestikasi adalah penjara. Kini, emansipasi terkadang disalahartikan sebagai kewajiban untuk menjadi "Superwoman". Lingkungan saat ini menuntut perempuan untuk:

  • Sempurna secara Profesional: Berkompetisi di dunia kerja dengan standar maskulin. Pada masa sekarang ini, tidak sedikit perempuan yang memiliki mental lebih dari standar perempuan pada umumnya. Perempuan hari ini banyak yang membangun peradaban, membuka banyak lapangan pekerjaan, menjadi pimpinan, dan mendobrak pintu-pintu produktivitas. 

  • Sempurna secara Domestik: Menjadi ibu dan istri yang selalu hadir tanpa cela.

  • Sempurna secara Visual: Tuntutan media sosial untuk selalu tampil estetis dan awet muda.

Beban ganda ini seringkali membuat perempuan merasa sedang berlari di atas treadmill yang kecepatannya terus dinaikkan. Jika tidak hati-hati, kita akan kehilangan diri sendiri demi memenuhi standar orang lain.

baca juga

Di tengah gempuran ekspektasi, menjaga diri bukan lagi soal perawatan wajah di akhir pekan. Menjaga diri hari ini adalah tentang ketegasan mental (boundaries).

  1. Berani Berkata Tidak: Menyadari bahwa kapasitas kita terbatas adalah bentuk kebijaksanaan. Kita tidak perlu memenangkan semua pertempuran setiap hari.

  2. Menyaring Kebisingan Digital: Membatasi diri dari perbandingan di media sosial yang seringkali menjadi racun bagi rasa percaya diri.

  3. Kesehatan Mental adalah Prioritas: Mengakui rasa lelah dan mencari bantuan (profesional maupun personal) adalah kekuatan, bukan kelemahan.

Kartini tidak bergerak sendiri; ia bersurat, ia bertukar pikiran, ia mencari dukungan. Di era yang sangat kompetitif ini, musuh terbesar perempuan seringkali adalah rasa terasing atau perasaan harus "lebih baik dari perempuan lain."

"Perempuan yang sukses adalah mereka yang mampu membangun fondasi kuat dengan batu bata yang dilemparkan orang lain kepadanya—dan ia melakukannya sambil membantu perempuan lain membangun fondasi mereka juga."

Saling support bukan sekadar slogan. Itu berarti:

  • Menghentikan "Mom-shaming" atau "Career-shaming". Setiap perempuan punya medan tempurnya masing-masing. Perempuan seperti bunga, memiliki musimnya masing-masing untuk mekar, untuk bersinar.

  • Menjadi Pendengar yang Aman. Ruang aman bagi sesama perempuan untuk mengeluh tanpa dihakimi adalah kemewahan sangat dibutuhkan saat ini. Tak jarang perempuan membutuhkan teman perempuan yang selalu ada hanya untuk mendengarkan apapun yang ingin dikeluhkan, disampaikan.

  • Berbagi Peluang. Jika kita sudah sampai di atas, jadilah perempuan pemengaruh, tetapi jangan lupa untuk 'menurunkan tangga' bagi yang lain. Merangkul, mendukung, mengajak, agar apapun yang kita raih, kita capai, bisa terus tersebar dan lebih banyak lagi perempuan yang merasakan impaknya.

  • baca juga

    Merefleksikan semangat Kartini di masa kini bukan berarti kita harus memikul beban dunia di pundak sendiri. Justru, cara terbaik menghormati perjuangannya adalah dengan menjadi perempuan yang berdaya sekaligus manusiawi.

    Mari, berjanji pada diri sendiri untuk lebih lembut pada diri sendiri, dan lebih murah hati pada sesama perempuan. Lingkungan mungkin semakin menuntut. Namun, selama kita memiliki perlindungan diri yang kuat dan tangan-tangan yang saling menggenggam, semangat Kartini akan terus hidup—bukan sebagai beban, tapi sebagai cahaya.

    Selamat Hari Kartini. Tetaplah terjaga dan teruslah mendukung. Mari, kita rayakan Hari Kartini dengan menjadi manusia.

    Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

    Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

    SA
    KG
    Tim Editorarrow

    Terima kasih telah membaca sampai di sini

    🚫 AdBlock Detected!
    Please disable it to support our free content.