Kerajinan Indonesia menjadi salah satu produk dalam negeri yang memiliki potensi besar di pasar internasional. Beng Solo, salah satu perusahaan yang berdiri di New York, Amerika Serikat pada era 1970-an membuktikan minat terhadap kerajinan dari Indonesia tersebut.
Perusahaan yang didirikan oleh seorang wanita Indonesia yang bermukim di sana ini berhasil memasarkan produk-produk kerajinan di Negeri Paman Sam. Tidak hanya itu, usaha yang dia dirikan ini juga memberikan dampak positif secara tidak langsung bagi orang-orang yang bekerja di Indonesia.
Bagaimana kipah Beng Solo, salah satu usaha kerajinan Indonesia yang sempat eksis di New York, Amerika Serikat pada 1970-an silam? Simak ulasan lengkapnya dalam artikel berikut ini.
Asal Usul Beng Solo
Dinukil dari artikel "Beng Solo Laris di AS" dalam surat kabar Indonesia Raya edisi 30 April 1971, Beng Solo merupakan salah satu perusahaan yang didirikan oleh M. Suharjo di New York, Amerika Serikat. Perusahaan yang menjual kerajinan dari Indonesia ini pertama kali dia jalankan pada Desember 1970 lalu.
Nama yang dipilih sendiri sebenarnya berasal dari kata "Bengawan Solo." Namun M. Suharjo memutuskan untuk menyingkat nama tersebut menjadi Beng Solo.
Menurutnya, nama Bengawan Solo cukup panjang dan sulit dilafalkan oleh orang-orang New York pada waktu itu. Oleh sebab itu, dia memilih nama "Beng Solo" yang dianggap lebih singkat dan mudah untuk dilafalkan.
Dalam kesehariannya, M. Suharno menjajakan berbagai kerajaan asal Indonesia di perusahaannya tersebut. Terdapat berbagai macam kerajinan yang dia jajakan di sana, mulai dari miniatur angklung, hiasan lontar, dan lainnya.
Diminati Pasar Amerika Serikat
Setelah beberapa bulan menjalankan usahanya, M. Suharno menjelaskan jika kerajinan yang dia jual cukup banyak diminati di pasar Amerika Serikat pada waktu itu. Meskipun belum mendapatkan pesanan dalam jumlah masif, produk yang dia jual pada waktu itu cukup mendatang untung yang signifikan.
Dari semua jenis kerajinan yang dia jual, miniatur angklung menjadi salah satu produk yang banyak diminati oleh masyarakat. Pada saat artikel ini diwartakan di surat kabar tersebut, M. Suharno menceritakan jika dia baru saja menerima pesanan sebanyak 50 ribu miniatur angklung.
Miniatur ini nantinya akan disebarkan ke berbagai sekolah yang ada di sana. Miniatur angklung ini digunakan sebagai mainan bagi anak-anak yang ada di daerah tersebut dulunya.
Selain miniatur angklung, hiasan lontar juga menjadi salah satu produk yang banyak diminati di Beng Solo. Pada awal Februari 1971, Beng Solo juga mendapatkan pesanan hiasan lontar dalam jumlah besar.
Hiasan lontar ini akan digunakan sebagai hadiah untuk anak-anak pada momen "Gift Show." Bentuknya yang unik dan lucu menarik minat anak-anak untuk memainkan hiasan lontar tersebut.
M. Suharjo menjelaskan ada dua faktor yang membuat mengapa kerajinan Indonesia cukup digemari di Amerika Serikat saat dia mulai merintis usaha. Pertama, kerajinan Indonesia menjadi suatu hal yang baru bagi masyarakat Amerika Serikat pada waktu itu.
Sebelumnya mereka belum mengenal dan bersentuhan langsung dengan berbagai kerajinan yang ada di Beng Solo. Selain itu, harga jual yang relatif murah juga menjadi salah satu alasan mengapa kerajinan Indonesia yang dia jual bisa mendapatkan tempat di masyarakat.
Produksi Langsung dari Indonesia
Meskipun menjalankan usaha jauh di Amerika Serikat, Beng Solo milik M. Suharno ternyata memberikan dampak secara tidak langsung bagi orang-orang yang ada di Indonesia. Sebab semua produk yang dia jual di Negeri Paman Sam tersebut diproduksi langsung di Indonesia.
M. Suharno menyebutkan jika seluruh pesanan miniatur angklung yang dia terima dikerjakan di Wonogiri, Jawa Tengah. Setelah proses produksi selesai, barulah barang-barang tersebut dikirim dan dijual di Beng Solo nantinya.
Praktik ini sesuai dengan tujuan M. Suharno ketika pertama kali menjalankan usahanya. Dia berkeinginan untuk memberikan pemasukan tambahan bagi para pekerja yang sebagian besar berprofesi sebagai petani, khususnya pada saat musim panen usai.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


