Sejak zaman dulu hingga sekarang, tulisan merupakan salah satu sarana guna menyuarakan dan/atau menyebarluaskan kabar kepada masyarakat secara luas. Berakar dari tujuan dasarnya sebagai media komunikasi, tulisan telah mengalami perubahan yang signifikan dari waktu ke waktu.
Secara fungsional, tulisan membantu seseorang dalam menyampaikan maksud atau kehendak diri berupa guratan simbolis seturut bahasa maupun aksara yang berkembang pada wilayah tertentu. Dari situ, tulisan tidak dapat dipisahkan dari peradaban manusia, karena ia akan selalu terpakai sepanjang manusia masih ada di muka bumi.
Berkaitan dengan perkembangannya, tulisan dibentuk oleh perangkat yang primordial, seperti halnya menggunakan batu kapur serta sabak. Kita dapat mengetahuinya melalui berbagai penemuan dari para arkeolog berupa situs-situs yang menunjukkan dinamika tulisan dalam aksara kuno yang kini telah memfosil.
Melansir GoodStats (25/11/2022), hasil studi menyebutkan bahwa Aksara Sumeria Kuno atau juga dikenal sebagai Aksara Paku adalah jenis aksara paling tua di dunia, sekaligus diprediksi sebagai aksara pertama yang diciptakan manusia.
Diketahui Aksara Paku telah hadir sejak 3.100 tahun SM (sebelum masehi). Aksara ini sendiri dikembangkan oleh peradaban purba dengan kemajuan yang pesat pada masanya, yang terletak di wilayah Mesopotamia (kini bagian dari Irak). Tidak hanya Aksara Paku saja, ditemukan pula aksara kuno yang dikembangkan oleh bangsa lain, yaitu Hieroglif Mesir, Aksara Paku Akkadia, Aksara Paku Elamite, serta Hieroglif Kreta.
Perkembangan Bahasa Melayu
Bahasa Melayu, yang dalam hal ini adalah ‘ibu’ dari Bahasa Indonesia, punya alur sejarah yang panjang dan cukup kompleks. Sebagaimana disadur dari zenius.net (10/11/2015), setidaknya Bahasa Indonesia modern telah berubah secara diakronis sesuai zamannya masing-masing. Dikemukakan bahwa Bahasa Proto-Austronesia merupakan fondasi dasar terhadap pembentukan Bahasa Melayu.
Bila melihat secara rasial, bahasa tersebut dilafalkan oleh orang-orang Austronesia dengan morfologi meliputi wajah yang bulat, berhidung lebar, berambut hitam tebal sedikit bergelombang, dan kulit yang kecokelatan. Mereka adalah kelompok pendatang yang mendiami pelbagai pulau di kawasan Samudra Pasifik sekitar 5.000 SM. Rumpun kesukuannya termasuk besar, yang mencakup suku Melayu, Formosan (Taiwan), Filipina, serta Polinesia (Hawaii, Selandia Baru, dan sebagainya).
Mengingat usia yang sangat tua, tingkat akurasi linguistik pada Bahasa Proto-Austronesia masih butuh diselidiki lebih lanjut. Meskipun begitu, masih ada beberapa kata dari bahasa ini yang mampu dikenali dan mirip dengan dialek kontemporer, misalnya seperti “i-aku” (aku), “balay” (balai), “danaw” (danau), serta “berngi” (wengi: malam dalam Bahasa Jawa).
Berlanjut pada tahun 2.000 SM, muncul turunan dari Bahasa Proto-Austronesia, yaitu Bahasa Proto Malayo-Polynesian. Diperkirakan bahasa ini mulai muncul setelah leluhur orang Melayu keluar dari daerah Taiwan dan menyebar pada kepulauan di selatan Taiwan.
Seiring berjalannya waktu, Bahasa Proto Malayo-Polynesian akhirnya terpecah menjadi bahasa untuk wilayah Polinesia (seperti Hawaii, Rapa Nui, Tahiti, Samoa, dan sebagainya) serta bahasa etnis Melayu (seperti Melayu Riau, Jawa, Batak, Minangkabau, Dayak, Madagaskar, dan sebagainya) dalam rentang waktu 2.500 tahun silam. Diketahui bahwa Bahasa Proto Melayu yang merupakan pecahan ini kemungkinan diucapkan pertama kali di kawasan Borneo (Kalimantan) bagian utara-tengah, sebelum berpencar dan meluas ke penjuru Nusantara.
Bermula dari Bahasa Proto Melayu, perkembangan dari bahasa ini dibagi ke dalam tiga periode besar, meliputi Bahasa Melayu Kuno, Bahasa Melayu Klasik lalu bertransformasi menjadi Bahasa Melayu Modern yang adalah induk Bahasa Indonesia. Adapun jejak Bahasa Melayu Kuno ditemukan dari pemukiman di pesisir timur Sumatra, Semenanjung Malaya, dan pesisir barat Kalimantan.
Bukti arkeologis bahasa ini dapat dijumpai pada peninggalan berupa prasasti hingga kitab kuno sejak abad ke-7 sampai 14 M. Meskipun tidak semua peninggalan murni menggunakan Bahasa Melayu Kuno, setidaknya Dinasti Syailendra-lah yang setia memopulerkan bahasa ini sebagai media dalam menulis prasasti. Pada saat itu pula, Bahasa Melayu Kuno mengadopsi sebagian kata dari Bahasa Sanskerta yang lebih banyak dituturkan oleh para pedagang serta penyebar agama Hindu-Budha dengan Aksara Pallawa dan Nagari.
Memasuki masa syiar Islam di Nusantara serta kolonialisme Eropa, Bahasa Melayu Kuno selanjutnya berkembang menjadi Melayu Klasik, sekitar tahun 1400 sampai 1800-an. Seperti tren sebelumnya, bahasa ini juga mulai mengadopsi beberapa kata yang berasal dari Jazirah Arab, yang kala itu disebut menggunakan Aksara Jawi sebagai bentuk akulturasi dengan Aksara Arab.
Tatkala mulai kedatangan akan bangsa Eropa seperti Portugis, Inggris, Spanyol, dan Belanda, Bahasa Melayu pun beradaptasi terhadap kultur khas Barat yang terbawa menggunakan Aksara Latin. Demi efisiensi dalam berdagang, Bahasa Melayu semakin “likuid” terhadap perkembangan zaman, yang mana dianggap menjadi “bahasa internasional” untuk kawasan Nusantara. Sampai akhirnya, lahirlah Bahasa Indonesia sebagai identitas nasional yang berakar dari kebudayaan Melayu, terutama soal bahasa.
Terbitnya Tulisan Ki Hajar Dewantara: Pelopor Kebangkitan untuk Bahasa Indonesia sekaligus Kebebasan Pers
Selama era kolonialisme Belanda, segala bentuk maupun upaya tentang perjuangan dan semangat kemerdekaan akan segera diredam oleh pemerintah kolonial apapun itu caranya. Para tokoh bangsa yang sempat mengenyam pendidikan waktu itu merasa resah dengan apa yang terjadi. Dari sanalah, RM Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hajar Dewantara yang aktif dalam Indische Partij menulis pamflet dalam Bahasa Belanda yang sukses membuat pihak penjajah meradang dan risau. Pamflet ini diterbitkan pada surat kabar De Expres milik Douwes Dekker tanggal 19 Juli 1913.
Berjudul ‘Als Ik Eens Nederlander Was’ (Seandainya Aku Seorang Belanda), pamflet tersebut memuat kritik bernada satire terhadap rencana pemerintah kolonial untuk memperingati 100 tahun merdekanya Belanda atas ekspansi Prancis dengan pesta yang mewah di tanah Hindia Belanda (Indonesia dulu). Yang bikin jengkel, dana pesta tersebut akan dibebankan kepada masyarakat melalui pungutan pajak yang memberatkan banyak pihak. Sudahkan tidak etis, rencana itu justru mencederai martabat serta kedaulatan dari bangsa Indonesia. Melalui tulisannya, Ki Hajar Dewantara mempertanyakan logika yang dipakai pejabat saat itu terhadap warga pribumi.
Begitu tulisannya diterjemahkan ke dalam Bahasa Melayu, dengan segera pamflet menjadi buah bibir bagi khalayak ramai. Jika ditinjau menurut aksiologinya, apa yang ditulis Ki Hajar Dewantara sejatinya merupakan pemicu awal nan krusial untuk gerakan revolusioner yang lebih besar lagi di masa depan.
Pertama, walau memang tidak berkorelasi langsung, tulisan beliau mampu menggugah tekad bangsa untuk lepas dari belenggu penjajahan. Hal itu terbukti dengan diselenggarakannya Kongres Pemuda I dan II yang melahirkan Sumpah Pemuda. Kedua, tulisan yang diterbitkan menegaskan akan peralihan fungsional pers yang dulunya cenderung memenuhi kepentingan pemerintah kolonial menjadi senjata diplomasi nasional.
‘Als Ik Eens Nederlander Was’ boleh disebut adalah tulisan yang fenomenal karena diciptakan oleh penduduk beretnis Melayu sekaligus pembuktian untuk tidak semena-mena terhadap bangsa lain.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


