Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya terus memperkuat upaya perluasan akses internasional bagi ekosistem seni rupa Indonesia melalui platform Rising Currents di Art Central Hong Kong 2026 yang telah berlangsung pada 24-29 Maret 2026 lalu di Central Harbourfront, Hong Kong.
Inisiatif ini merupakan bagian dari tahap Rekognisi Internasional dalam skema MTN Seni Budaya, yang dirancang untuk membuka akses bagi galeri dan seniman Indonesia ke platform global, sekaligus memperluas jejaring profesional, eksposur, dan peluang pasar internasional.
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon dalam kesempatan terpisah menyampaikan, “Hadirnya Rising Currents’ di Art Central Hong Kong 2026 menandai langkah penting MTN Seni Budaya dalam menempatkan ekosistem seni rupa Indonesia dalam arus percakapan global.
Lebih dari sekadar kehadiran, ini adalah upaya membangun ekosistem budaya yang memungkinkan talenta seni rupa Indonesia tumbuh berkelanjutan, menjalin jejaring, dan beresonansi dalam lanskap seni kontemporer dunia.
“Kementerian Kebudayaan menempatkan penguatan ekosistem seni rupa nasional sebagai bagian strategis dari agenda pemajuan kebudayaan dan diplomasi budaya Indonesia. Karena itu, kami terus mendorong pembinaan talenta, penguatan kapasitas ekosistem, perluasan jejaring, serta pembukaan akses yang lebih luas ke berbagai platform internasional. Kehadiran Indonesia dalam ‘Rising Currents’ di Art Central Hong Kong 2026 merupakan penegasan bahwa seni rupa Indonesia harus semakin maju, semakin berdaya saing, dan semakin diperhitungkan di panggung dunia”, ungkap Fadli Zon.
Berdasarkan posisi yang strategis
Pemilihan Art Central Hong Kong sebagai platform presentasi didasarkan pada posisinya yang strategis sebagai salah satu titik temu penting dalam ekosistem seni kontemporer Asia, baik dari sisi pasar maupun diskursus global. Di tengah dinamika geopolitik dan pergeseran lanskap seni internasional, Hong Kong Art Month tetap menjadi hub yang mempertemukan kolektor, kurator, institusi, dan pelaku seni dari berbagai kawasan, menjadikannya relevan sebagai pintu masuk bagi praktik seni dari Asia Tenggara ke panggung global.
Selama ini, partisipasi galeri Indonesia dalam art fair internasional menghadapi berbagai tantangan, mulai dari tingginya biaya partisipasi, produksi dan logistik karya, hingga keterbatasan akses terhadap jaringan kolektor dan institusi global. Melalui dukungan MTN Seni.
Budaya, hambatan tersebut diintervensi secara strategis, memungkinkan galeri Indonesia untuk hadir secara kolektif dalam platform internasional berskala besar.
Melalui Rising Currents, MTN menghadirkan delapan galeri Indonesia, yaitu EDSU house (Yogyakarta), Galeri Ruang Dini (Bandung), ISA Art Gallery (Jakarta), Puri Art Gallery (Bali), RUCI Art Space (Jakarta), SAL Project (Jakarta), SEWU SATU (Jakarta), dan Vice & Virtue (Jakarta), dengan melibatkan total 17 seniman Indonesia lintas generasi.
Ada sesi diskusi
Selain presentasi galeri, MTN Seni Budaya juga menyelenggarakan sesi diskusi bertajuk “Rising Currents: Indonesian Contemporary Art in Motion”, yang menghadirkan Vicky Rosalina (Koordinator MTN Seni Budaya Bidang Seni Rupa), Deborah Iskandar (ISA Art Gallery), dan Wilian Robin (Vice & Virtue). Diskusi ini menjadi ruang dialog strategis untuk membahas perkembangan praktik seni rupa Indonesia serta posisinya dalam lanskap global.
Partisipasi ini menjadi tonggak penting, karena untuk pertama kalinya sejumlah galeri Indonesia dapat berpartisipasi dalam art fair internasional dengan dukungan terstruktur dari negara, membuka peluang baru dalam membangun konektivitas dengan kolektor, kurator, dan institusi seni global.
Art Central Hong Kong 2026 sendiri menghadirkan lebih dari 117 galeri dan 500 seniman dari berbagai negara, serta menarik lebih dari 40.000 pengunjung selama enam hari penyelenggaraan, menegaskan perannya sebagai salah satu platform seni kontemporer terkemuka di kawasan Asia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


