Udara pagi Magelang selalu memiliki cara tersendiri untuk menenangkan detak jantung yang biasanya diburu waktu. Di momen Idulfitri kali ini, perjalanan saya menyusuri jalan-jalan desa, berpindah dari satu halaman rumah ke rumah lainnya untuk menjalankan tradisi sungkeman, terasa lebih dari sekadar napak tilas silaturahmi. Ada ritus keheningan di sela-sela jabat tangan dan perjumpaan dengan para sesepuh.
Di sanalah, di antara aroma teh hangat dan jajanan Lebaran, sebuah untaian doa terus beresonansi dan berulang mampir di telinga saya, "Mugi-mugi gampang anggone golek pangupo jiwo" (Semoga dimudahkan dalam mencari penghidupan).
Bagi telinga manusia modern saat ini, ungkapan tersebut mungkin hanya terdengar sebagai fosil bahasa, pepatah usang atau basa-basi pelengkap doa yang maknanya telah lama menguap di udara. Generasi masa kini yang kehidupannya berjibaku sebagai pengusaha, pekerja kantoran, hingga buruh pabrik kerap kali menerima doa itu sekadar sebagai harapkan kelancaran ekonomi atau kesuksesan karier.
Padahal, ketika para sesepuh menyematkan frasa itu, mereka sejatinya sedang mewariskan sebuah landasan filosofis yang sangat purba dan mendalam.
Secara leksikal, kata ini menyimpan anatomi makna yang sangat puitis. Ia berakar dari kata upa (sebutir nasi yang sudah matang) dan jiwo (roh atau nyawa).
Pertanyaannya, mengapa para leluhur Jawa seakan akan meringkas realitas ekonomi dan ikhtiar bertahan hidup yang begitu kompleks hanya dengan metafora "sebutir nasi untuk jiwa"?
Jawabannya sesungguhnya sangat menohok ego kita: karena mereka sadar bahwa puncak dari segala kelelahan fisik manusia sejatinya hanyalah untuk merawat nyawa dan menjaga jiwa, bukan untuk memuaskan keserakahan material.
Sayangnya, kesadaran luhur inilah yang kini perlahan pudar. Ketidaksadaran masyarakat hari ini terhadap kedalaman makna pangupo jiwo sejatinya adalah gejala dari penyakit eksistensial yang lebih besar. Manusia di dunia modern sering kali berlari sangat kencang, menumpuk pencapaian, tetapi pada saat yang sama kehilangan arah.
Psikolog eksistensial Rollo May pernah dengan tajam mendiagnosis penyakit peradaban ini dengan menyatakan bahwa “manusia modern menderita sindrom kekosongan batin”.
Kita telah kehilangan pusat nilai yang memberi makna pada eksistensi, sehingga kita merasa teralienasi (terasing) bukan hanya dari sesama, tetapi juga dari akar tradisi dan inti diri kita sendiri.
Keterasingan ini terjadi karena dunia modern mendidik kita untuk memuja rasionalitas, melatih akal demi efisiensi produksi. Namun, abai mengasah pangrasa (kepekaan batin).
Kita kerap kali mengangap bekerja sebagai mekanisme bertahan hidup atau sebagai instrumen untuk menumpuk kapital demi kebanggaan sosial semata.
Saat upa (materi) dipisahkan dari jiwo (roh), yang lahir adalah generasi yang perutnya mungkin kenyang oleh ambisi. Namun, jiwanya mati kelaparan karena kehilangan makna.
Di sinilah letak kedalaman agraris dan spiritual pangupo jiwo. Dalam penghayatan luhur masa lalu, profesi tidak direduksi sekadar sebagai "pekerjaan" yang berorientasi pada hasil material.
Ia dimaknai dengan istilah panguripan, sebagai sebuah jalan terhormat untuk menghidupi jiwa dan raga secara utuh.
Ketika pangrasa dihidupkan, kerja menjelma menjadi sebuah persembahan. Lirik lagu bernuansa vernakular yang menyebutkan, "Senajan rekoso tetep mbudidoyo, golek i pangupo jiwo" (Meskipun susah payah tetap berusaha, mencari penghidupan), bukanlah sebuah ratapan keputusasaan kaum pekerja.
Sebaliknya, lirik itu adalah potret ketangguhan (resiliensi) yang sangat beresonansi dengan teologi Islam tentang hakikat Ikhtiar.
Dalam kacamata tasawuf, ikhtiar membanting tulang mencari nafkah yang halal bukanlah tumpukan aktivitas duniawi yang hampa. Ketika niatnya dikembalikan pada esensi panguripan (menjaga martabat kemanusiaan dan menafkahi keluarga), maka hiruk-pikuk pekerjaan itu bersublimasi menjadi jalan spiritual (suluk).
Ruang kantor, pabrik yang bising, atau lapak di pasar berubah wujud menjadi mihrab. Tetesan keringat saat mbudidoyo tidak lagi sekadar bernilai ekonomi, melainkan menjadi Ibadah.
Kerja adalah cara manusia menunaikan amanahnya sebagai khalifah di bumi, menyatu dengan kehendak Sang Pencipta.
Krisis terbesar manusia modern pada dasarnya bermuara pada pencarian makna di tempat yang salah. Hal ini melahirkan sebuah paradoks yang sayangnya cukup tragis, layaknya orang yang kelelahan mencari api ke sana kemari. Padahal sedari tadi tangannya sedang memegang obor yang menyala.
Manusia berkeliling mencari validasi, ketenangan, dan kebahagiaan dari hal-hal yang ada di luar dirinya. Padahal, sumber cahaya itu (fitrah keilahiyahan dan kedamaian batin) telah tertanam lekat di dalam dadanya.
Islam menawarkan penawar atas kelelahan eksistensial ini melalui konsep Qana'ah, yang dimaknai sebagai rasa rida dan merasa cukup atas pemberian Sang Maha Kuasa. Falsafah pangupo jiwo secara tersirat merawat laku qana'ah ini.
Kita diingatkan bahwa segala daya dan upaya yang kita kerahkan pada akhirnya hanyalah untuk mencari upa (sebutir nasi) guna menegakkan tulang punggung agar raga ini kuat bersujud.
Bukan untuk menuruti ego, ketamakan, dan hawa nafsu yang garis akhirnya tak pernah nampak keberadaannya.
Perjalanan melintasi rumah-rumah di Magelang pada momen Lebaran ini akhirnya bermuara menjadi sebuah perjalanan spiritual bagi saya. Doa pangupo jiwo adalah teguran lembut dari masa lalu untuk kita, manusia modern yang kerap terasing dari dirinya sendiri.
Sebaris frasa itu mengingatkan kita bahwa akal dan materi (upa) tidak akan pernah menemukan titik pulangnya jika tidak diikatkan pada kelembutan rasa dan ketauhidan (jiwo).
Bekerjalah dengan gigih, peraslah keringat dalam mbudidoyo. Namun, sadarilah bahwa tujuan akhir dari semua kelelahan itu bukanlah untuk menaklukkan dunia.
Ia semata-mata adalah jalan merawat jiwa, agar kelak saat tiba waktunya pulang, jiwa tersebut kembali kepada Penciptanya dalam senyum yang paling tenang (mutmainnah).
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


