Masyarakat Indonesia yang gemar makanan manis tentu sudah tidak asing dengan SilverQueen. Cokelat dengan kemasan ikonik ini sering kali dikira produk luar negeri karena namanya.
Padahal, SilverQueen lahir dan besar di Garut, Jawa Barat, sejak tahun 1950. Perjalanan panjang merek ini di bawah naungan PT Petra Food (sekarang Delfi Limited) membuktikan kalau produk lokal punya daya tahan yang kuat di tengah gempuran merek global.
Hasil survei Top Brand Award 2024 menunjukkan angka yang cukup kontras dalam kategori cokelat batang. SilverQueen menduduki peringkat pertama dengan indeks sebesar 56,20 persen.
Posisi kedua ditempati oleh Cadbury, merek asal Inggris, yang meraih indeks 19,70 persen. Sementara itu, Delfi yang juga merupakan merek lokal berada di urutan ketiga dengan angka 8,60 persen.
Data ini sejalan dengan riset Kurious-Katadata Insight Center (KIC) yang menyebutkan bahwa SilverQueen merupakan merek cokelat yang paling banyak dikonsumsi di Indonesia.
Dari 605 responden, sebanyak 93,7 persen mengaku biasa membeli merek ini. Selain itu, tingkat popularitasnya mencapai 96,4 persen, jauh melampaui pesaingnya seperti Cadbury dan Delfi yang masing-masing berada di angka 79,3 persen dan 72,2 persen.
Dominasi Lokal di Tengah Penurunan Produksi Kakao
Tingginya konsumsi cokelat di dalam negeri sebenarnya menyimpan dinamika tersendiri di sektor hulu perkebunan.
Bahan baku utama cokelat berasal dari biji kakao yang harus melewati tahap fermentasi hingga pengeringan. Indonesia sendiri memiliki rekam jejak sebagai salah satu produsen kakao terbesar di dunia. Pada tahun 2021, produksi kakao nasional sempat mencapai 728 ribu ton.
Namun, angka tersebut mengalami penurunan menjadi 667 ribu ton pada tahun berikutnya. Sehingga, Indonesia pun jadi posisi ketiga dunia, di bawah Pantai Gading dan Ghana.
Meskipun produksi bahan baku di tingkat petani mengalami fluktuasi, permintaan pasar terhadap produk cokelat siap konsumsi justru terus merangkak naik setiap tahun.
Banyak merek baru kini ikut mencoba peruntungan di pasar Indonesia. Namun, faktor harga yang terjangkau, kemudahan akses di berbagai tempat, hingga rasa yang sudah sangat akrab di lidah membuat posisi pemain lama seperti SilverQueen sulit digoyahkan.
Ketersediaan barang mulai dari warung kelontong hingga swalayan besar juga menjadi faktor yang menjaga loyalitas konsumen lintas generasi.
Persaingan dan Standar Kualitas Produk Dalam Negeri
Keberhasilan merek lokal dalam memenangi persaingan di pasar domestik memberikan gambaran mengenai standar kualitas produk dalam negeri.
Industri pengolahan cokelat di Indonesia saat ini sudah mampu menghasilkan produk dengan cita rasa yang disukai secara luas, bahkan hingga diekspor ke pasar internasional seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina.
Proses pengolahan pasta kakao menjadi cocoa butter dan cocoa solids yang dilakukan secara mandiri oleh produsen lokal memberikan keunggulan dalam menyesuaikan karakter rasa dengan preferensi masyarakat Indonesia.
Pemahaman pasar dan konsistensi kualitas inilah yang membuat industri cokelat hilir di Indonesia tetap tumbuh meski sektor hulu menghadapi tantangan produktivitas.
Geliat industri makanan manis di Nusantara diprediksi akan terus berkembang seiring dengan munculnya variasi produk baru.
Namun, data preferensi konsumen sejauh ini masih menunjukkan bahwa untuk urusan cokelat batang, masyarakat Indonesia masih menempatkan merek lokal sebagai pilihan nomor satu di daftar belanja mereka.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


