ragabali untuk digdaya kebudayaan negeri - News | Good News From Indonesia 2023

RagaBali untuk Digdaya Kebudayaan Negeri

RagaBali untuk Digdaya Kebudayaan Negeri
images info

Anggota Komunitas RagaBali Surakarta berfoto di sela-sela pementasan. Dokumentasi Foto milik Komunitas Seni RagaBali Surakarta


(#LombaArtikelPKN2023 #PekanKebudayaanNasional2023 #IndonesiaMelumbung untuk Melambung)

Fenomena Wisata Budaya Duplikatif

Arus modernisasi yang dibarengi dengan perkembangan teknologi berbagai rupa tampaknya telah menciptakan kecanduan tersendiri. Tidak hanya bagi warga masyarakat perkotaan dengan kondisi finansial yang mapan, akan tetapi juga melanda masyarakat pedesaan dengan ekonomi menengah ke bawah. Hal ini dapat dilihat dari pergeseran sifat dan karakter individu masyarakat yang sebelumnya antipati untuk mengekspresikan diri di ruang media sosial. Namun kini penuh hasrat untuk menunggangi ruang-ruang media sosial yang ada dengan ekspresi gaya, busana dan aksesoris di luar aktivitas kesehariannya. Kecanduan ini makin menjadi-jadi ketika banyak kemudian bermunculan destinasi wisata baru yang mencoba menduplikasi kondisi budaya daerah lain dan/atau bangsa lain di dunia. Umumnya destinasi wisata yang demikian menawarkan sensasi liburan yang seolah-olah para pengunjung telah berada pada destinasi wisata impiannya. Seperti halnya wisata budaya pulau Dewata Bali yang diduplikasi di sejumlah daerah di Jawa Tengah. Persoalannya adalah bukan terletak pada tempat atau lokasinya, melainkan konten-konten wisata budayanya yang jauh dari kata mapan, mendidik, dan layak. Sebagai putra asli Bali tentu fenomena ini menjadi kegelisahan tersendiri dengan bayang-bayang asumsi adanya; 1) pola laku tak wajar dalam tata kelola warisan budaya pada bingkai kepariwisataan; 2) penyimpangan nilai-nilai budaya asli yang berdampak pada persepsi negatif pada bentuk, fungsi dan maknannya; 3) mengeringnya lumbung budaya lokal.

Komunitas Seni RagaBali dan Adaptasi Konsep Pada Gelahang

Kegelisahan tersebut telah mendorong langkah kaki membangun komunitas seni bernama RagaBali sebagai lumbung pengetahuan seni dan budaya Bali di Kota Surakarta. Perjalanan dimulai sejak tahun 2018 dengan mengumpulkan para penggiat seni SMK N 8 Surakarta dan Mahasiswa/i Prodi Etnomusikologi dan Jurusan Karawitan ISI Surakarta.

Mengetuk hati dan mengumpulkan semangat budaya para pemuda-pemudi tersebut bukan perkara mudah kala itu. Terlebih Kota Surakarta yang multi etnis, kultur, dan budaya. Namun ada petunjuk pada Niti Sastra, Sanggah V, bait 3 dikutip suatu ajaran yang berbunyi “Wasita nimitanta manemu laksmi, wasita nimitanta pati kapangguh, wasita nimitanta manemu dhuka, wasita nimitanta manemu mitra”. Artinya “Karena berbicara engkau menemukan kebahagiaan, karena berbicara engkau mendapat kematian, karena berbicara engkau akan menemukan kesusahan, dan karena berbicara pula engkau mendapat sahabat”. Ada pula suatu konsep perkawinan dalam adat Bali bernama pada gelahang dari dua model pernikahan umum dikenal yakni perkawinan biasa dan perkawinan nyentana. Perkawinan pada gelahang mengandung makna saling memiliki serta digelar atas kesepakatan dari pihak pengantin yang sama-sama berstatus anak tunggal dalam keluarganya dengan beban tanggung jawab (swadarma) dan hak (swadikara) guna warisan masing-masing (Windia, 2009: 24). Agar kemudian tidak jatuh ke tangan orang lain maka dipilih jalan tengah yakni pernikahan pada gelahang yang memungkinkan kedua dapat melaksanakan hak dan kewajiban di dua wilayah berbeda.

Maka kemudian, komunikasi dalam membangun kesadaran pada tingkat rasa saling memiliki sebagai ‘anak tunggal’ menjadi kunci perekat dan sekaligus menjadikan setiap anggota ikut menjadi pewaris, pelestari, dan pengembang budaya di luar tradisi budaya leluhurnya. maka kemudian, tersusun 5 program pokok Komunitas Seni RagaBali yakni; (1) Edukasi, yang mengarah pada kegiatan pembelajaran seni gamelan dan tari Bali yang bertempat di pendopo Gamelan Bali Kampus ISI Surakarta dan Omah Bedauh, Mojosongo; (2) Kebudayaan, yang mengarah pada kegiatan ngayah di seluruh Pura yang ada di Kota Solo dengan mengikuti jadwal yang sudah diatur dalam kalender Bali; (3) Forum 2X1, yang mengarah pada kegiatan 2 minggu sekali berupa diskusi dan presentasi konsep karya seni, manajemen, artistik panggung dan properti kostum dengan para mentor yang sudah ahli di bidangnya; (4) Kelas Kreatif, yang mengarah pada kegiatan pelatihan maupun workshop produk seni bernilai guna, yang dilakukan dalam studio maupun yang bersifat kemitraan dengan instansi-instansi, sekolah-sekolah, komunitas dan privat ke rumah-rumah; (5) Kerjasama, yang mengarah pada kerja kolaboratif dan atau kemitraan terkait pertukaran pelajar, pengajar seni maupun sejenisnya.

Pura sebagai Lumbung Pendidikan Kebudayan dan Keagamaan

Kelima program tersebut dapat berjalan dengan baik hingga tahun 2023 ini, seiring apresiasi yang diterima RagaBali atas kontribusi dalam melestarikan dan mengembangkan budaya Bali yang tidak semata berada pada wilayah wacana, namun langkah nyata pada wilayah praktik dan riset-riset akademik. Muara kelima program tersebut membawa pada suatu cita-cita besar untuk menjadikan pura sebagai pusat atau lumbung pendidikan kebudayaan dan keagamaan khususnya yang secara fisik berada di luar pulau Bali. Pasalnya pura merupakan satu-satunya stasiun komunikasi bagi masyarakat Bali dengan Sang Maha Pencipta pada dimensi sakral. Satu sisi yang lain Pura juga dijadikan monumen bagi masyarakat di luar keyakinan agama Hindu untuk melihat dan mengenal kebudayaan Bali.

Apabila menengok proses transmisi nilai-nilai kebudayaan dan keagamaan di Bali senyata hanya ada di pura dan balai banjar yang ada di tiap-tiap desa. Pura tidak semata menjadi stasiun komunikasi sakral, melainkan pusat kajian kebudayaan yang secara langsung diserap lewat berbagai kegiatan keagamaan. Bahwa selama ini berbagai sikap intoleransi dan persekusi terjadi, juga antipati budaya adalah salah satunya disebabkan oleh minimnya kegiatan transmisi nilai-nilai kebudayaan yang lintas generasi. Maka tak mengherankan jika antar sesama diantara kita tak saling memahami satu sama lain, dan justru saling mencurigai satu sama lain. Gagasan ini pula ingin memusatkan kegiatan wisata budaya Bali di lokasi pura, bukan di tempat-tempat wisata buatan yang minim kajian kebudayaan. Sehingga dapat dijamin kualitas nilai-nilai budaya yang ditawarkan dan yang terpenting menjadi rumah “ibadah kebudayaan” untuk bersama.

Digdaya Kebudayaan Negeri

RagaBali pada tahun 2019 menggelar Sarasvari Festival untuk pertama kalinya di Pura Agung Sarasvati. Pada mulanya kegiatan ini hanya diperuntukan untuk warga Hindu yang ada di Kota Surakarta, namun tak disangka kedigdayaan budaya ini mengundang antusias masyarakat dari berbagai kalangan usia dan lintas keyakinan. Hingga akhir acara masih tetap duduk rapi. Peristiwa pertunjukannya sangat sederhana namun dibalik interkasi dna komunikasi antara pencipta dan penikmat pertunjukan ada penjelasan mendalam bahwa sesungguhnya negeri ini begitu luas dan besar yang dapat ditemui pula lewat penjelajahan konsep-konsep dan wujud keseniannya.

Referensi

Windia.2009.Perkawinan Pada Gelahang di Bali. Denpasar: Udayana University Press


(pastikan sertakan sumber data berupa tautan asli dan nama jika mengutip suatu data)

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

IK
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.